Atma Jaya

Intip Peluang Content Creator Menjadi Pilihan Karir Baru bagi Milenials

Jakarta – Berkembangnya produksi komunikasi dan informasi di era sekarang ini, ditambah kemudahan mengakses internet yang kian pesat. Membuat perilaku banyak orang dalam menerima banyak informasi mulai berubah. Beragamnya platform media sosial sekarang ini, menjadikan siapa saja dapat meproduksi informasi dengan mudah dan menarik. Tidak lagi sekadar menjadi pelaku konsumsi informasi saja, media sosial dan internet membuat banyak kesempatan kita semua termasuk anda, memproduksi informasi sesuai dengan kegemaran atau hal-hal yang kita sukai. Menyenangkannya lagi, kita dapat menyalurkan kegemaran masing-masing menjadi pundi rupiah yang terbilang tidak sedikit. Menggiurkan, bukan?

 

Ya, content creator menjadi kata yang tidak begitu asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Apalagi semenjak dua platform media sosial yang terkenal di Indonesia saat ini, sebut saja Instagram dengan SelebGram-nya atau YouTube dengan Youtuber-nya yang sudah banyak melahirkan content creator lokal yang nama-namanya tidak pernah kita dengar sebelumnya. Menariknya, mayoritas content creator yang kita kenal sekarang ini kebanyakan tidak datang dari kalangan artis yang memang sudah ternama, melainkan datang dari kalangan masyarakat biasa seperti kita ini. Lantas apa yang membuat nama-nama content creator sekarang ini, sebut saja Nessie Judge, Awkarin, Tasya Farasya, atau Jerome Polin begitu eksis di jagat media sosial?

 

Program studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya pada Rabu (13/05) menyelenggarakan webinar bincang seru bertajuk ‘Apakah Content Creator Pilihan Karir Generasi Milenials?’. Dipandu langsung oleh salah satu dosen prodikom Stefanus Andriano beserta alumni prodikom Brian Notodihardjo dan mahasiswi prodikom Kinanthi Anindita yang membagikan pengalaman dan kiat-kiat membuat konten yang menarik.

 

Keunikan dan konsistensi adalah dua hal yang membuat content creator menjadi sukses, setidaknya hal tersebut yang dijelaskan oleh Stefanus. Ia menyebutkan terdapat banyak sekali konten kreator yang ada di media sosial, ketika seseorang (secara bertanggung jawab) memutuskan untuk memproduksi informasi yang ada dimedia, terutama media digital, maka orang tersebut dapat disebut sebagai konten kreator. Selain skil, value yang terdapat pada setiap individu dapat juga menjadi modal untuk ditawarkan kepada publik. Selain itu, keunikan juga dapat ditemui pada setiap individu. “Karena banyaknya konten kreator diluar sana, adanya kesamaan informasi yang ditawarkan jelas dapat ditemui dengan mudah, maka itu keunikan menjadikan informasi yang ditawarkan terlihat berbeda dari yang lainnya,” ujarnya.

 

Selain keunikan, konsistensi juga menjadi kunci agar publik ‘setia’ menunggu karya-karya kita selanjutnya. Hal senada juga diutarakan oleh Brian Notodihardjo, salah satu alumni angkatan pertama prodikom UAJ. Brian mengingatkan pentingnya konsistensi saat memulai membuat suatu konten yang kita inginkan. “Ketika membuat konten sesuai dengan kegemaran kita, sebenarnya secara tidak langsung kita sudah menentukan ‘market’ yang akan menerima konten kita,” ujar penggemar sneakers itu.

 

Stefanus melanjutkan, setidaknya ada tiga konsep dasar yang harus dilakukan oleh konten kreator. Pertama yang paling mendasar adalah menentukan ide dan konsep, tentu saja yang berkaitan dengan kegemaran atau hal lain yang ingin disampaikan. Apalagi jika sudah berhasil menyandang sebagai konten kreator yang cukup populer. Stefanus membagi konten kreator menjadi tiga berdasarkan engagement ratenya yakni micro content creator dengan rata-rata jumlah pengikut disemua platform media sosial antara 500-10.000, lalu macro content creator dengan rata-rata jumlah pengikut 10.000-1.000.000, dan yang terakhir ada mega content creator dengan jumlah pengikut mulai dari 1.000.000.

 

Setelah menentukan ide dan konsep, tentu saja selanjutnya adalah memproduksi konten itu sendiri. Stefanus menjelaskan informasi yang ingin kita sampaikan dibuat semenarik mungkin sesuai kreasi kita dengan cara membuat konten yang memadukan gambar, suara, video, tulisan, atau gabungan dari keseluruhan tersebut. Jika sudah mengemas konten kita, selanjutnya dilakukan penentuan jadwal untuk menaikkan kontan kita ke platform media sosial yang kita miliki.

 

Di era teknologi sekarang yang semakin praktis dan mudah serta mayoritas perangkat yang kita punya terhubung dengan internet, menjadikan siapa saja dapat memulai memproduksi kontennya masing-masing. Contohnya yang dilakukan oleh salah satu mahasiswi prodi komunikasi Kinanthi Anindita saat ia mencoba mengikuti lomba vlog Atma Jaya Communication Week 2019 lalu. “Aku waktu itu nyoba mulai ngerekam daily vlog aku pakai smartphone sendiri, terus aku edit sedemikian rupa, dan ternyata engga nyangka berhasil meraih juara 1,” ujar mahasiswi angkatan 2017 ini. Ia juga menyampaikan perlunya keberanian untuk memulai dan memanfaatkan potensi yang dimiliki diri sendiri.

 

Pemilik akun Instagram @bryantbrian, membagikan perjalananan karirnya hingga menjadi konten kreator yang lebih dikenal karena hasil desainnya yang berkolaborasi dengan jenama sneakers lokal asal Bandung, Compass. Brian mengawali karirnya dibidang fesyen dengan modal kegemarannya tentang dunia musik dan dunia sneakers juga membuat dirinya menjadi salah satu influencer yang identik dengan konten yang berbau style dari berbagai clothing brand.

 

Brian juga dikenal sebagai model dan saat ini menjadi social media manager salah satu clothing brand Liberate Obdurate Contentious (@loc.jkt). Tidak hanya itu, ia juga pernah menjadi brand ambassador Adidas Indonesia pada tahun 2016-2018.

 

Pada tahun 2019 ia pernah dipercaya oleh temannya untuk mendesain sepatu produk sneakers dari Compass. Compass ‘Bravo 001’ menjadi produk pertama yang juga semakin melambungkan nama Brian di dunia sneakers lokal. Kesuksesannya ditandai dengan antusiasme peminat yang membludak untuk membeli sepatu hasil rancangan pertama Brian tersebut pada Jakarta Sneakers Day 2019.

 

Meski dikenal sebagai influencer, pria yang kini juga menjadi content writer untuk Urban Sneaker Society ini merendah dan mengungkapkan apa yang ia lakukan saat ini tidak lebih dari kegemarannya yang memengaruhi banyak orang di media sosial. Ia berpesan ketika menjadi seorang konten kreator, perlu untuk selalu konsisten dengan bidang yang digeluti. “Jangan sampe karena baru memulai menjadi seorang content creator, ketika baru buat satu dua konten dan merasa tidak banyak menjadi perhatian publik, kita langsung berpaling dengan tema atau bidang lainnya, itu gak konsisten, semua harus berproses,” ujar cowok yang juga pernah menjadi desainer sepatu Nike Air Force 1 Nevertoolavish ini. (SG)

Kalender
S S R K J S M
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  
bottom