Atma Jaya

Membangun Kreativitas Guru BK di Masa New Normal

 

Adaptasi kebiasaan baru (new normal) mengubah perilaku relasi dan komunikasi masyarakat, termasuk lingkungan pendidikan sekolah. Kini sudah hampir satu semester peserta didik melaksanakan anjuran sekolah dari rumah, yang artinya selama rentang waktu tersebut mereka tidak bertemu teman sebayanya, dan hanya berinteraksi dengan lingkungan yang terbatas.

 

Br. Bambang FIC mengingatkan kalau perserta didik rentan terkena bahaya cabin fever yang mengintai kesehatan mental, dan tentu berpengaruh pada fisik. Peserta didik, khususnya pada bangku menangah hingga atas ada pada rentang umur yang membutuhkan sebanyak mungkin kesempatan untuk bersosialisasi dengan rekan seumuran. Alodokter mejelaskan cabin fever adalah perasaan sedih, bosan, gelisah, dan ragam perasaan negative lain karena terlalu lama diam di suatu tempat dan terisolasi dari lingkungan sekitarnya.

 

Pada saat seperti inilah peran guru bimbingan konseling makin diperlukan untuk membangun komunikasi dan memberikan perhatian pada peserta didik. Dalam kesempatan seminar online bersama hampir 200 guru BK yang tersebar di beberapa kota, Br. Bambang FIC mengungkapkan bahwa hubungan emosional dan pemahaman akan kebutuhan dari peserta didik atau konseli menjadikan profesi guru BK tidak bisa digantikan dengan teknologi apa pun. Namun, guru bimbingan konseling perlu untuk mengenal dan menggunakan kecanggihan teknologi untuk dapat menjalankan peran mereka sebagai mediator antara sekolah dengan murid juga orang taunya. Serta membangun komunikasi yang baik dengan konseli, khususnya ketika masa pandemi ini.

 

“Guru BK professional salah satunya cirinya mampu mengelola strategi layanan konseling dengan baik. Membangun komunikasi interpersonal dengan peserta didik. Jika guru BK acuh tak acuh siswa bisa hilang,” tutur Dosen Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya itu, pada Senin (27/7)

 

Untuk strategi layanan konseling yang kreatif, konselor bisa menggunakan bermacam media dan platfom komunikasi yang familiar dengan konseli. Dalam hal pemanfaatan teknologi, Br. Bambang meningatkan guru BK agar tidak mengabaikan nilai humanis dalam profesi mereka. Teknologi yang kini makin canggih dan nyaman, menurutnya memunculkan femenomena dimana kita lebih mementingkan metode yang efektif dan efisien dalam sesi-sesi konseling dengan peserta didik.

 

“Teknologi yang efektif dan efisien belum tentu humanis. Guru BK jangan sampai tersandung karena hal kemanusiawian ini dan jatuh pada zona nyaman. Saat-saat pandemi ini peserta didik kehilangan energi karena kehilangan kontak (fisik) dengan teman-temannya. Tugas guru BK untuk membangun energi itu, maka guru BK sendiri harus energik, harus berani berubah” tegas Br. Dr. Gregorius Bambang Nugroho FIC, dosen program studi bimbingan konseling UAJ.

 

Br. Bambang mengakui memang cyber counselling tidak mudah dan hasilnya bisa tidak semaksimal sesi konseling laring. Konselor tentu akan dihadapkan dengan keterbatasan dalam menilai prilaku dan mimik wajah juga ucapan konseli. Bahkan dalam beberapa kasus, konseli menolak untuk ditanyai. Hal yang sama juga ternyata dihadapi oleh Ibu Brigitta Tumilisa dari SMPK 6 Penabur, yang menyampaikan kekhawatirannya ketika mengahadapi peserta didik yang tidak responsif padahal perlu mengikuti sesi konseling terkait tugas-tugasnya. Menurut Br. Bambang, disanalah fungsi dari relasi dengan orang tua perserta didik yang harus terjalin mesra.

 

“Artinya bapak ibu menjalin kerjasama dengan orang tua. Orang tua perlu dikonseling sehingga mampu memotivasi anaknya untuk mau melakukan proses konseling pada guru BK. Memberi energi positif sehingga guru bisa mengakses siswa.”

 

Untuk topik-topik yang bersifat umum, Br. Bambang menyarankan untuk dapat membuat sesi konseling yang melibatkan beberapa peserta konseli sekaligus. Sesi konseling kelompok ini menurutnya bisa digunakan untuk mejangkau peserta didik, juga dengan orang tua atau wali peserta didik. Orang tua memainkan peran penting dalam membangun konsep diri peserta didik untuk menjadi pribadi yang terbuka dan percaya diri.

 

Mengakhiri seminar online tersebut, Br. Bambang mengingatkan para guru mengenai etika yang perlu diperhatikan selama sesi cyber counselling. Meski online guru BK juga harus tetap menerapkan keterampilan ilmu konseling yang biasa diterapkan dalam sesi konseling laring. Ia mengingatkan perlindungan data dan informasi konseli menjadi tanggung jawab dari konselor. Ketika work from home, guru BK perlu memperhatikan lingkungan sekitarnya untuk menjaga privasi. Juga menampilan mimik wajah dan gestur yang jelas agar konseli merasa nyaman selama sesi konseling.

 

Kegiatan Ini merupakan rangkaian acara dalam rangka virtual open house yang akan digelar oleh Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pada 1 Agustus 2020 mendatang. Calon mahasiswa baru dan orang tua bisa bertanya secara langsung kepada pimpinan universitas dan fakultas terkait informasi seputar program studi yang menjadi minat. Daftarkan diri anda untuk mengikuti Open House Virtual Unika Atma Jaya, klik: https://tinyurl.com/OpenHouseVirtualUAJ2020

Kalender
S S R K J S M
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  
bottom