Atma Jaya

Dies Natalis 60 Tahun Atma Jaya: Menghidupkan Perekonomian Lokal dengan Kain Tenun

 

Pada tahun 2017, melalui program pengabdian masyarakat yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya memulai program pendampingan kepada pengrajin tenun di Kefamenanu, Timor Tengah Utara, NTT. Bentuk pendampingan berupa pelatihan pembukuan dan pemasaran. Setelah program pendampingan itu, Unika Atma Jaya kini berkomitmen membeli hasil tenun mereka untuk dijadikan sebagai cenderamata bagi tamu universitas yang berasal dari instansi pemerintahan, mitra internasional, dan rekanan lain. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat lokal dan juga sebagai bentuk usaha untuk melestarikan nilai tradisi serta budaya tenun ke generasi muda.

 

Tidak ingin budaya mereka tergerus kemajuan jaman, pengerajin tenun Kefamenanu berusaha mengajarkan budaya tenun kepada generasi mudanya sejak mereka berusia dini. Umumnya mereka yang duduk dibangku sekolah menengah diajarkan untuk menenun benang dan tali pengikat menjadi selendang berukuran 4x100 cm. Setelah mahir mereka kemudian diajarkan untuk menghasilkan produk dengan bentuk atau ukuran yang lebih besar.

 

Kain tenun kemudian ditawarkan ke sekolah, pasar, dan pihak yang terpikat dengan keindahan corak kain yang memiliki motif unik, refleksi dari kehidupan budaya masyarakat bagian timur Indonesia. Hasil dari penjualan kain tenun kemudian dimanfaatkan untuk membeli keperluan sekolah dan uang jajan dari para penenun cilik ini. Unika Atma Jaya sendiri rutin memesan 200 potong kain tenun dari pengerajin kain Kabupaten Kefamenanu.

 

Dalam laporan kegiatan pengabdian masyarakat tahun 2017 yang dilakukan oleh tim peneliti FIABIKOM Unika Atma Jaya, Drs. Suharsono M.Si dan Dr.rer.pol. A.Y. Agung Nugroho, M.M., disebutkan kalau perempuan penenun di desa Biboki, Kefamenanu sebagain besar sudah berusia lanjut. Sayangnya, menurut laporan tersebut minat anak-anak dan generasi muda untuk melanjutkan tradisi menenun mengalami penurunan bahkan rendah. Maka melalui kegiatan pengabdian dan dengan menggandeng wirausahawan sosial, mereka berusaha untuk memberikan penyuluhan tentang peningkatan kapasitas pengembangan kewirausahaan sosial melalui tiga dimensi modal sosial (struktural, relasional dan kognisi). Pengabdian mereka juga bertujuan mengenalkan pentingnya regenerasi dengan melibatkan wirausahawan sosial dan komunitas penenun.

 

Pengabdian tersebut merekomendasikan agar pemerintah (dinas pendidikan) dapat memberikan perhatian, khususnya dalam hal kemampuan modal sosial dan rasa saling percaya. Kerja sama yang baik dari dinas pendidikan NTT dan sektor swasta terkait juga dapat membantu proses regenerasi. Salah satunya dengan menjadikan memenun sebagai kegiatan ekstrakulikuler di tingkat SD dan SMP.

 

Unika Atma Jaya melalui kegiatan tahunan Social Entrepreneurship Marketplace mencoba untuk menjangkau komunitas dan berkolaborasi untuk menghasilkan ide dan solusi melalui produk barang dan jasa. SE Marketplace mendorong generasi muda untuk dapat bertumbuh menjadi bagian dari kolaborasi antara universitas bersama komunitas. Unika Atma Jaya percaya sinergi yang baik ini akan memberikan makna bagi pelayanan pendidikan Pergurun Tinggi, serta langkah awal dalam belajar untuk memecahkan masalah sosial dan membuka peluang bagi semua orang.

 

 

Referensi: https://prosiding-pkmcsr.org/index.php/pkmcsr/article/view/106/139

Kalender
S S R K J S M
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30  
bottom